BPOM tarik 54 obat tradisional

10 08 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat merilis 54 obat tradisional mengandung bahan kimia obat (BKO) “Dosis penambahan bahan kimianya berlebihan, bukan dosis terapi lagi,” ujar Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta Selasa (10/6).

Menurut Husniah, sebanyak 54 jenis obat tersebut 7 produsennya terdaftar di BPOM. “Pada saat pendaftarannya obat mereka tanpa penambahan BKO,” kata Husniah. Selain 7 produsen terdaftar terdapat 46 produsen dengan nomor registrasi fiktif.

Izin produksi obat tradisional ini ada yang ke BPOM dan Pemerintah Daerah. Untuk industri rumah tangga, menurut Husniah dikeluarkan Pemerintah Daerah. Badan hanya mengeluarkan izin untuk industri menengah ke atas.

Obat-obatan tersebut mengandung zat sibutramin hidroklorida, sildenafil sitrat, siproheptadin, fenilbutason, asam mefenamat, prednison, metampiron,
teofilin dan parasetamol. “Fenilbutason sudah ditarik sebagai bahan kimia obat di seluruh dunia,” urai Husniah.

Jenis obat tradisional tersebut di antaranya obat kuat, pelangsing, obat sesak napas,obat asam urat dan obat pegal linu.

Proporsi BKO yang tanpa takaran memang menyebabkan obat manjur ketika dikonsumsi. Namun dampaknya diakui Husniah berupa kerusakan parah organ tubuh terutama kinerja ginjal. Maka BPOM melarang masyarakat mengkonsumsi obat tersebut dan membuka unit layanan pengaduan konsumen untuk informasi lebih lanjut.

Potensi bisnis obat tradisional mencapai 4 trilyun rupiah. Adanya BKO dalam obat tradisional menyebabkan beberapa negara menghentikan atau menunda impor
dari Indonesia. Negara yang telah menyampaikan keluhan obat tradisional yang berbahan kimia obat adalah Singapura, Brunei, Arab Saudi dan Malaysia.

Peredaran obat tradisional ber-BKO ditemukan di Yogjakarta, Banjarmasin, Kendari, Mataram, Medan, Lampung, Banda Aceh, Pontianak, Bengkulu, Padang,
Pekanbaru, Bandung, Jakarta, Kupang, Makassar.

Badan Pengawas Obat dan Makanan telah memusnahkan dan menarik semua obat tradisional yang terkategorikan mengandung BKO.”Begitu hasilnya positif, maka BPOM
daerah langsung diwajibkan menarik produk tersebut,” kata Husniah.

Penyisiran obat berbahaya di pasar-pasar dilakukan bersama antara BPOM daerah dengan pemerintah daerah ” Semua produsennya kami pro-justicia, ditangkapnya (produsen) saja undercover” tutur Husniah.

Kesepakatan penindakan pelanggaran obat dan makanan telah dibuat antara BPOM, Kepolisian RI dan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum). Husniah menuturkan pelanggaran obat dan makanan selama ini tidak pernah sampai ke tangan Jampidum karena dianggap sebagai perkara kriminal biasa.

“Tapi mereka (Jampidum) saat ini telah menggolongkannya sebagai perkara penting,” ujar Husniah. BPOM sedang menantikan apakah menjadikan kasus ini perkara penting membuat efek jera bagi produsen.

Dianing Sari


Actions

Information

One response

22 04 2009
Sapto MS

BPOM Harus super cermat dalam memberikan ijin bagi produsen makanan dan obat, baik produsen Domestik/lokal maupun internasional. Banyak masalah kedokteran yang yang dianggap sebagai suatu perkara biasa padahal karena “Human error” atau kesalahan dokter dalam menangani pasien, kemudian penggunaan dosis obat tertentu yang tidak sesuai, dan itu dianggap suatu yang biasa, padahal dalam satu sisi merugikan konsumen / pasien, Bangsa indonesia selalu dijadikan uji coba atau kelinci percobaan produk-produk baik makanan, obat minuman, bahkan barang elektronika/teknologi oleh negara maju, berhubung rakyat indonesia kebal terhadap radiasi, akhirnya tidak begitu berpengaruh bagi tubuh, jadi melalui forum ini saya menghimbau bagi pihak-pihak yang mempunyai kemampuan kepinteran / ilmu tentang ini terutama BPOM yang mengetahui Zat-zat kimia berbahaya yang terkandung dalam suatu makanan dan obat. Ini semua demi anak cucu kita. Contohnya dalam susu nestle virus yang dikandungnya itu akan menjadikan orang yang meminumnya menjadi idiot pada umur pertengahan sekitar 45-80 tahun sehingga daya pikir dan daya ingat akan semakin berkurang dan terlebih bahaya lagi akan menimbulkan kanker otak pada usia 60 tahun sehingga lebih cenderung orang tersebut menderita parkinson atau saraf motoriknya tidak stabil, akan terjadi Strok berat bahkan mengakibatkan koma / mati suri bahkan meninggal dunia tergantung stamina daya tahan tubuh dari si penderita. sesungguhnya demikian itu ada yang memprovokasinya, ada yang sengaja melakukan itu, bukan karena hanya sekedar mencari keuntungan tetapi lebih dari itu ingin menguasai RI dengan cara diracun secara perlahan-lahan. Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: