Izzatunnafis (FA/o7053)

18 11 2008

PENETAPAN KADAR STIGMASTEROL PADA HERBA DAN AKAR PURWOCENG (Pimpinella purwatjan Molkenb.) DENGAN METODE KLT DENSITOMETRI

Purwoceng (Pimpinella purwatjan Molkenb.) telah banyak dikenal sebagai tanaman pemangkit gairah seksual (aprodisiaka) dan obat alternatif untuk penyakit disfungsi seksual. Sayangnya purwoceng masuk kategori spesies langka di Indonesia. Kelangkaan purwoceng disebabkan karena persyaratan tumbuh yantg spesifik dan dipanene dengan mencabut seluruh tanaman. Hal ini dikarenakan bagian tanamana yang dipercaya memiliki kahasiat afrodisiaka adalah bagian akar. Stigmasterol diduga sebagai zat aktif yang memberikan khasiat pada tanaman purwoceng. Selain pada akar, stigmasterol juga terdapat pada daun. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar stigmasterol pada akar dan herba purwoceng.

Serbuk akar dan herba diperkolasi dengan etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dipertisi dengan kloroform-etanol (1:1). Metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) densitometri digunakan untuk penetapan kadar stigmasterol. Sampel ditotolkan pada plat silika gel F254, dielusi dengan n-heksana-etilasetat (20:5) + 4 tetes asam asetat glasial. Bercak stigmasterol terlihat pada Rf 0,3 setelah disemprot dengan anisaldehida-asam sulfat dan dipanaskan pada suhu 100oC selama 3 menit. Pengukuran dengan TLC (thin layer chromatografi)-scanner dilakukan pada panjang gelombang 366nm.

Hasil yang diperoleh kadar rata-rata stigmasterol pada herba purwoceng 0,83 +- 1,89 %b/b dan pada akar 0,73 +- 1,51 %b/b

kata kunci : (Pimpinella purwatjan Molkenb.), stigmasterol, disfungsi ereksi, aprodisiaka





Antonius Dewanto P (o4/FA/o721o)

13 08 2008

ANALISIS MAKROSKOPIK, MIKROSKOPIK DAN PENENTUAN SENYAWA IDENTITAS (MARKER) DARI SIMPLISIA HERBA PURWOCENG (Pimpinela pruatjan Molkenb.) 

Abstrak

Herba purwoceng telah digunakan oleh masyarakat sebagai aprodisiak. Karena harga yang mahal serta kelangkaannya, maka rawan dipalsukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan simplisia secara makroskopik, menentukan fragmen pengenal serbuk dan menentukan senyawa identitas purwoceng.

Penelitian bersifat eksploratif. Simplisia herba dideskripsikan secara makroskopik berdasarkan ciri morfologi dan organoleptis. Secara mikroskopik serbuk ditentukan fragmen pengenalnya menggunakan mikroskop. Senyawa identitas didapatkan dengan Kromatografi Lapis Tipis kualitatif dari perbandingan penyarian serbuk herba bersama-sama pegagan, seledri dan wortel menggunakan pelarut petroleum eter, kloroform, metanol dan etanol.

Hasil penelitian menunjukkan simplisia daun purwoceng mengkerut, mudah hancur, bidang patahan daun melintang, sifat permukaan helaian mengkerut memperlihatkan tulang-tulang daun, nampak atau tidak tangkai daun, cokelat tua, aromatik, tidak berasa. Batang sulit ditemukan, susunan bunga majemuk tak berbatas seperti payung majemuk, daun-daun pembalut tidak ditemukan. Fragmen pengenal serbuk adalah rambut penutup, tetes minyak, pembuluh kayu dengan penebalan spiral, spiral padat, cincin dan tangga, stomata tipe parasitik, kristal ca-oksalat bentuk pasir, serabut sklerenkim, jaringan epidermis batang dan daun, serta jaringan parenkim. Senyawa identitas herba purwoceng, dengan sistem Kromatografi Lapis Tipis fase diam Silika Gel 60 F254 fase gerak heksan-etil asetat (9:1), ditemukan pada ekstrak petroleum eter dan ekstrak etanol 96% dengan hRf 15 dan 21 masing-masing berfluoresensi biru dan hijau bila diamati di bawah UV366.

Kata kunci : herba purwoceng, pemalsuan, makroskopik, mikroskopik, senyawa identitas

CP : matrix_1612004@yahoo.com