Maria Angela N. (FA/07327)

8 04 2009

PENGUJIAN p-OH BENZALDEHID SEBAGAI SENYAWA PENANDA REBUNG BAMBU KUNING (Bambusa vulgaris Schrad.) BESERTA KUANTIFIKASINYA DENGAN METODE DENSITOMETRI

Oleh : Maria Angela Novitasari

FA/07327

INTISARI

Rebung bambu kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) digunakan oleh masyarakat sebagai obat sakit kuning. Belum adanya pedoman standardisasi ekstrak rebung bambu kuning mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah senyawa p-OH benzaldehid dapat bertindak sebagai senyawa penanda rebung bambu kuning beserta kuantifikasinya.

Penelitian ini bersifat eksploratif. Senyawa identitas ditetapkan dengan analisis profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dari ekstrak etanolik rebung bambu kuning yang difraksinasi bertingkat menggunakan heksan, etil asetat, etanol dan air. Bercak yang muncul di semua fraksi kemudian dibandingkan dengan pola kromatogram tanaman satu suku untuk menentukan spesifikasinya. Kuantifikasi senyawa penanda dilakukan dengan densitometri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa p-OH benzaldehid bukan merupakan senyawa khas pada rebung bambu kuning. Perbandingan pola kromatogram tanaman satu suku menunjukkan bahwa p-OH benzaldehid terdapat pada rebung jenis bambu lain (Gigantochloa apus Kurz. dan Bambusa blumeana Schultes.) selain rebung bambu kuning. Bercak yang khas untuk rebung bambu kuning teramati pada plat KLT 60 F254 di bawah sinar UV 366 nm hasil elusi menggunakan kloroform-metanol (9:1) v/v pada hRf 55 dengan fluoresensi warna biru. Hasil kuantifikasi menggunakan metode densitometri didapatkan kadar dari senyawa p-OH benzaldehid yang terdapat pada ekstrak etanolik rebung bambu kuning yang tumbuh di daerah Kabupaten Sleman adalah sebesar 3,22±1,33% (b/b).

Kata kunci : rebung bambu kuning, senyawa penanda, p-OH benzaldehid, kuantifikasi





Lady Alvina A. (FA/o7o28)

18 11 2008

SKRINING AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK METANOL SPONS ASAL PERAIRAN PULAU MENJANGAN DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA PENYUSUN FRAKSI AKTIF

Spons merupakan invertebrata dengan veriasi struktur metabolit yang kompleks. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa senyawa kimi yang terkandung dalam spons sangat potensial dan efektif sebagai antimikroba, antimalaria, spermatisida, insektisida, bahkan beberapa jenis spons menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker. Bertolak dari hal tersebut maka dilakukan penelitan terhadap lima jenis spons yntuk diketahui aktivitas antimikrobanya terhadap Staphylococcus aureus (Gram positif), Escherichia coli (Gram negatif), Candida albicans dan Trichophyton mentagrophytes (yeast). Dilakuakn pula pencarian golongan senyawa penyusun fraksi aktif dan identifikasi taksonomi terhadap spons terpilih.

Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan teknik disc diffusion (Kirby & Bauer test). Ekstrak metanol spons terpilih difraksinasi dengan metode partisi cair-cair. Hasil fraksinasi diuji lagi aktivitas antimikrobanya. Fraksi yang memberikan hasil positif diidentifikasi golongan senyawa penyusunnya dengan metode KLT. Potensi antimikroba dilihat dengan melakukan pengukuran diameter daya hambat pertumbuhan mikroba uji. Pemeriksaan golongan senyawa dilakukan dengan mengukur harga hRf dan mendeteksi dengan berbagai macam pereaksi semprot dan diuji bioautografi terhadap fraksi aktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spons D7 aktif terhadap S.aureus, spons B1 aktif terhadap T.mentagrophytes, spons F2 aktif terhadap C.albicans dan T. mentagrophytes. Hasil fraksinasi ekstrak spons F2 menunjukkan bahwa etil asetat memberikan hasil positif terhadap C. albicans dan T. mentagrophytes. Pemeriksaan golongan senyawa menunjukkan bahwa dalam fraksi aktif spons F2 terkandung senyawa organik nitrogen yang mengarah pada golongan senyawa alkaloid dan golongan senyawa asam amino, amina serta peptida. Golongan senyawa lain yang ada di dalamnya adalah turunan terpenoid dan steroid. Deteksi dengan uji bioautografi menunjukkan hasil negatif. Hasil identifikasi taksonomi spons menunjukkan bahwa spons F2 adalah Chelotropella sp.

Kata kunci : antimikroba, spons, Chelotropella sp





Izzatunnafis (FA/o7053)

18 11 2008

PENETAPAN KADAR STIGMASTEROL PADA HERBA DAN AKAR PURWOCENG (Pimpinella purwatjan Molkenb.) DENGAN METODE KLT DENSITOMETRI

Purwoceng (Pimpinella purwatjan Molkenb.) telah banyak dikenal sebagai tanaman pemangkit gairah seksual (aprodisiaka) dan obat alternatif untuk penyakit disfungsi seksual. Sayangnya purwoceng masuk kategori spesies langka di Indonesia. Kelangkaan purwoceng disebabkan karena persyaratan tumbuh yantg spesifik dan dipanene dengan mencabut seluruh tanaman. Hal ini dikarenakan bagian tanamana yang dipercaya memiliki kahasiat afrodisiaka adalah bagian akar. Stigmasterol diduga sebagai zat aktif yang memberikan khasiat pada tanaman purwoceng. Selain pada akar, stigmasterol juga terdapat pada daun. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar stigmasterol pada akar dan herba purwoceng.

Serbuk akar dan herba diperkolasi dengan etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dipertisi dengan kloroform-etanol (1:1). Metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) densitometri digunakan untuk penetapan kadar stigmasterol. Sampel ditotolkan pada plat silika gel F254, dielusi dengan n-heksana-etilasetat (20:5) + 4 tetes asam asetat glasial. Bercak stigmasterol terlihat pada Rf 0,3 setelah disemprot dengan anisaldehida-asam sulfat dan dipanaskan pada suhu 100oC selama 3 menit. Pengukuran dengan TLC (thin layer chromatografi)-scanner dilakukan pada panjang gelombang 366nm.

Hasil yang diperoleh kadar rata-rata stigmasterol pada herba purwoceng 0,83 +- 1,89 %b/b dan pada akar 0,73 +- 1,51 %b/b

kata kunci : (Pimpinella purwatjan Molkenb.), stigmasterol, disfungsi ereksi, aprodisiaka





Pramita Yuli Pratiwi (FA/o7124)

18 11 2008

Pengaruh Fraksi Etanolik Herba Pegagan (Centela asiatica (L.) Urban) terhadap Peningkatan Antibodi pada Mencit Jantan Galur Balb/c yang Diinduksi Vaksin Hepatitis B

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui adanya senyawa glikosida triterpen (asiatikosida) yang terkandung dalam fraksi etanolik herba pegagan (Centela asiatica (L.) Urban) dan untuk mengetahui pengaruh fraksi etanolik herba pegagan terhadap peningkatan antibodi pada mencit jantan galur Balb/c yang diinduksi vaksin hepatitis B.
Serbuk herba pegagan dimaserasi dengan etanol 50%, kemudian ekstrak dipurifikasi dengan etanol 96%. Fraksi diuapkan dan diidentifikasi kandugan glikosida triterpen dengan KLT. Selanjutnya fraksi etanolik digunakan sebagai sampel dengan penambahan CMC Na 1%. Sebanyak 70 ekor mencit galur Balb/c dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok I kontrol negatif. Kelompok II-VI pemberian fraksi etanolik herba pegagan dosis 25 mg/kg BB, 50 mg/kg BB, 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB. Kelompok VII baseline. Pemberian dilakukan peroral. Pengkondisian hewan uji selama 7 hari, kemudian vaksinasi dilakuan pada hari ke-) (7 hari setelah pengkondisian) dan hari ke-14 secara intraperitonial. Darah diambil pada hari ke-18 melalui plexus retro orbitalis. Serum dipisahkan dan digunakan untuk penetapan antibodi (imunoglobulin) dengan metode ELISA tak langsung. Data diperoleh dievaluasi secara statistik menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dilanjutkan dengan uji ANAVA dengan taraf kepercayaan 95%. Harga OD menunjukkan jumlah imunoglobin.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam fraksi etanolik herba pegagan terkandung senyawa glikosida triterpen (asiatikosida). Sedangkan hasil pengukuran produksi Ig, pemberian fraksi etanolik herba pegagan dosis 25, 50, 100, 200, dan 400 mg/kgBB tidak berefek sebagai imunostimulator maupun imunosupresan sebab peningkatan maupun penurunan antibodi tidak berbeda signifikan.

Kata kunci : pegagan (Centela asiatica (L.) Urban), glikosida triterpen (asiatikosida), imunostimulator, imunoglobulin





Hadratul Asliyah (FA/7077)

15 10 2008

KAJIAN PENGGUNAAN OBAT HERBAL PADA TERAPI HIPERTENSI PASIEN RAWAT JALAN R.S HAPPY LAND YOGYAKARTA PERIODE JANUARI – MEI 2007

Hadratul Asliyah
(04/177051/FA/07077)

Dalam upaya pengembangan pengobatan herbal, telah dilakukan penelitian mengenai kajian penggunaan obat herbal terhadap pasien hipertensi rawat jalan Poli Herbal di RS Happy Land Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan obat herbal, baik pola penggunaan herbal yang digunakan dalam terpai hipertensi, efektifitas pengobatan herbal dalam menurunkan tekanan darah dan keterkaitan metabolit sekunder herbal-herbal yang digunakan dengan kemungkinan efek yang dihasilkan.

Penelitian ini termasuk penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif analitik. Subyek penelitian adalah pasien hipertensi Poli Herbal RS Happy Land Yogyakarta periode Januari-Mei 2007. Data penelitian diambil secara retrospektif dari rakam medis dan data resep pasien. Pola pengobatan herbal dianalisis secara deskriptif dar data resep apsiesn. Uji keefektifan pengobatan herbal dianalissis dari data tekanan darah pasien sebelum dan sesudah pengobatan melalui uji t berpasangan, menggunakan pengolah data statistik SPSS versi 15.0. Kriteria inklusi untuk uji keefektifan pengobatan herbal adalah pasien hipertensi Poli Herbal RS Happy Land Yogyakarta yang melakukan kunjungan pemeriksaan sebanyak 2 kali dalam kurun waktu yang berurutan. Telaan pustaka dilakukan untuk mengetahi keterkaitan kandungan senyawa dalam bahan ramuan obat herbal dengan efek penurunan tekanan darah (hipotensif).

Dari penelitian diperoleh hasil bahwa obat herbal yang digunakan herbalis di RA Happy Land Yogyakarta untuk penanganan penyakit hipertensi dan penyertanya adalah sebanyak 39 jenis (10 jenis diantarnaya terbukti memiliki aktivitas antihipertensi pada uji hewan dan klinik), jumlah obat herbal yang diresepkan herbalis setiapn resepenya berkisar antara 9-10 jenis (2-3 jenis diantaranya merupakan herbal utama), dosis tiap herbal berkisar antara 1,5 – 5 gram, obat herbal digunakan dengan cara direbus dan air rebusan yang dikonsumsi. Analitik statistik menunjukkan bahwa pengobatan herbal tersebut efektif dalam menurunkan tekanan darah pasien hipertensi secara bermakna. Namun demikian, secara klinis penurunan tersebut tidak menjadikan tekanan darah pasien mencapai terget terapi pengobatan hipertensi. dari telaah pustaka diperkirakan bahwa kekompleksan metabolit sekunder yang terkandung dalam ramuan obat herbal mendukung adanya suatu sistem pengobatan yang holistik, dan diperkirakan obat herbal berpengaruh pada perbaikan kondisi kesehatn pasien.

Kata kunci : pengobatan herbal, pola pengobatan hipertensi, RS Happy Land Yogyakarta

CP : lya_1986@yahoo.com





Sekar Aji C. (o4/FA/o7176)

6 09 2008

PENGARUH VARIASI KADAR PRIMOJEL SEBAGAI BAHAN PENGHANCUR DALAM FORMULASI TABLET EKSTRAK DAUN KEPEL (Stelecocarpus burahol (Bl.) Hook, f. & Th.)

INTISARI

Daun kepel (Stelecocarpus burahol (Bl.) Hook, f. & Th.) digunakan oleh masyarakat untuk mengobati asam urat dengan cara direbus. Hal ini dinilai kurang praktis. Pembuatan tablet merupakan upaya untuk membuat sediaan yang lebih praktis dan efisien. Ekstrak mempunyai daya lekat yang tinggi, agar tablet dapat hancur diperlukan bahan penghancur yang mempunyai kemampuan besar. Primojel merupakan salah satu superdisintegran yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kadar primojel sebagai bahan penghancur terhadap kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet.
Ekstrak daun kepel dibuat dengan maserasi etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh diuji organoleptis dan sifat fisik (rendemen, daya lekat, kekentalan). Ekstrak dibuat massa granul dengan laktosa, diayak dengan ayakan no. 12 dan dikeriangkan pada suhu 50oC. Granul kering diayak dengan ayakan no. 14, ditambah fase eksternal (Primojel, talk dan Mg-Stearat). Granul diuji sifat fisik (waktu alir, pengetapan, densitas, kompaktibilitas, kadar air) kemudian dikempa. Tablet yang dihasilkan diuji sifat fisik (keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, kecapatan penyerapan air, waktu hancur). Data yang diperoleh dibandingkan dengan persyaratan yang terdapat pada Farmakope Indonesia dan pustaka lain yang berlaku dan dianalisis menggunakan metode statistik analisis varian satu jalan dan Kruskall Wallis dengan taraf kepercayaan 95%.
Variasi kadar Primojel berpengaruh terhadap kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet ekstrak daun kepel. Semakin besar kadar Primojel yang ditambahkan akan menurunkan kekerasan dan meningkatkan kerapuhan tablet. Penambahan kadar Primojel 6% mempercepat waktur hancur tablet, namun penambahan kadar yang lebih besar (8%) memperlama waktu hancur tablet. Formula III dengan penambahan Primojel 6% merupakan formula paling baik ditinjau dari kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet.

kata kunci : tablet, Primojel ekstrak daun kepel





Wahyu Puspita H. (o4/FA/o7209)

6 09 2008

PENGARUH VARIASI KADAR AMPROTAB SEBAGAI BAHAN PENGHANCUR DALAM FORMULASI TABLET EKSTRAK DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.)

INTISARI

Daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.) telah digunakan masyarakat sebagai obat ginjal dalam bentuk seduhan. Bentuk sediaan ini dirasa kurang efektif, maka dibuat sediaan tablet yang lebih modern dan efektif. Bahan penghancur dibutuhkan agar tablet pecah menjadi partikelnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kadar Amprotab terhadap sifat fisik granul dan sifat fisik tablet.
Ekstrak dibuat dengan maserasi etanol 50%. Ekstrak diuji organoleptis (bentuk, warna, bau, rasa), uji fisik (%rendemen, daya lekat, kekentalan). Ekstrak dicampur homogen dengan laktosa dan larutan gelatin 5 % sampai diperoleh massa granul, diayak dengan ayakan no.12 dan dikeringkan. granul kering yang diperoleh diayak denan ayakan no.14, dicampur homogen dengan Amprotab (kadar 0%, 7,5%, 10%, dan 12,5%) dan talk sebagai fase eksternal. Campuran granul diuji sifat fisiknya (waktu alir, indeks pengetapan, densitas massa, kadar air, kompaktibilitas) kemudian dikempa menjadi tablet dan diuji sifat fisiknya (keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, daya serap air, waktu hancur). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan analisis varian satu jalan taraf kepercayaan 95%.
Penambahan Amprotab secara ekstragranuler dapat mempengaruhi sifat fisik granul yaitu meningkatkan densitas massa granul serta menurunkan waktu alir, indeks tap dan kompaktibilitas. Penambahan Amprotab secara ekstragranuler dapat mempengaruhi sifat fisik tablet yaitu meningkatkan kerapuhan tablet, daya serap dan waktu hancur tablet, serta dapat menurunkan kekerasan tablet.

kata kunci : (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.), tablet, penghancur, Amprotab





Puguh Indrasetiawan (o4/FA/o7203)

30 08 2008

Brine Shrimp Lethality Test (BST) EKSTRAK TANAMAN TUMPANGSARI ANTARA Sonchus arvensis L. DENGANGynura pseudochina (L.) DC SERTA PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPISNYA 

 

INTISARI 

     Industri obat tradisional semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari konsumen. Bahan baku dalam obat tradisional yang sering dipakai dalam ramuan adalah tempuyung atauSonchus arvensis L. dan daun dewa Gynura pseudochina (L.) DC. Untuk mengantisipasi permintaan yang besar, maka diperlukan usaha budidaya. Dalam penelitian ini dilakukan budidaya secara tumpangsari antara tempuyung dan daun dewa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bioaktivitas ekstrak etanolik tanaman tempuyung dan daun dewa yang dibudidayakan secara monokultur dan tumpangsari dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)menetapkan harga LC50 dan mengetahui profil kromatografi lapis tipis (KLT) dari ekstrak kedua jenis tanaman tersebut.

     Sampel diambil dari hasil monokultur dan tumpangsari, dipanen pada saat menjelang perbungaan. Bagian tanaman meliputi akar (ATA dan ATC), umbi (ADA dan ADC) dan daun (DTA, DTC, DDA dan DDC) dikeringkan dengan oven pada suhu 50° C selama tujuh hari. Ekstrak untuk uji BST dan KLT diperoleh dengan metode maserasi selama 24 jam, kemudian sari dikeringkan dalam suhu kamar. Larutan induk untuk BST dibuat dengan cara dilarutkan 50 mg ekstrak dalam 5 ml etanol 70%, lalu dibuat seri konsentrasi 10 µg/ml, 100 µg/ml dan 1000 µg/ml. setiap konsentrasi dimasukkan ke dalam flakon dan dikeringkan pada suhu kamar. Setelah ekstrak dalam flakon kering, ditambahkan 3 ml air laut dan di-vortex selama satu menit. Sepuluh ekor larva Artemia salinaLeach yang berumur 48 jam dimasukkan ke dalam flakon, ditambah air laut sampai volume 5 ml dan ditetesi suspensi ragi sebanyak 2 tetes. Perhitungan persentase kematian larva dilakukan 24 jam setelah larva dimasukkan ke dalam flakon. Analisis kandungan senyawa metabolit sekunder dilakukan secara kualitatif dengan metode KLT.

      Hasil penelitian menunjukkan nilai LC50 yang diperoleh adalah 461,30 µg/ml (ATA), 170,81 µg/ml (ATC), 5847,54 µg/ml (ADA), 761,01 µg/ml (ADC), 1966,04 µg/ml (DTA), 3299,74 µg/ml  (DTC), 267,56 µg/ml (DDA) dan 140,48 µg/ml (DDC). Empat pasang perlakuan (ATA-ATC, ADA-ADC, DTA-DTC, dan DDA-DDC) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara metode tumpangsari dengan monokultur. Pada profil KLT, profil senyawa flavonoid, terpenoid dan alkaloid menunjukkan persamaan pada ekstrak hasil tumpangsari dan monokultur.

  •  
      Kata kunci :   Brine Shrimp Lethality Test (BST), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Sonchus arvensis L.,Gynura pseudochina (L.) DC




Rasidah (o4/FA/o7237)

29 08 2008

 

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIBAKTERIAL DARI MINYAK ATSIRI BUNGA CEPLIK SARI (Eucalyptus albaReinw.)


INTISARI

 

      Penyakit infeksi merupakan penyakit teratas penyebab kematian di negara berkembang. Bakteri penyebab timbulnya infeksi cenderung bersifat resisten terhadap antibiotik, sehingga pencarian agen antibiotik yang lebih poten dan efek sampingnya rendah masih diperlukan. Minyak atsiri tanaman suku Myrtaceae banyak yang telah diketahui memiliki komposisi kimia yang dapat memberikan aktivitas antimikroba. Ceplik sari (Eucalyptus alba Reinw.) merupakan tanaman suku Myrtaceae yang  juga mengandung minyak atsiri. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri minyak atsiri bunga ceplik sari terhadapStaphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 35218 beserta isolasi dan identifikasi senyawa apa yang berpotensi sebagai antibakteri.

      Metode dilusi cair digunakan untuk uji aktivitas antibakteri, sedangkan untuk mengetahui senyawa aktif yang bersifat sebagai antibakteri digunakan metode bioautografi. Senyawa aktif yang terdeteksi dengan metode bioautografi kemudian diisolasi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP). Identifikasi dan karakterisasi senyawa aktif dari minyak atsiri dilakukan dengan kromatografi gas-spektrometri massa (KG-SM).

      Hasil uji dilusi cair diperoleh nilai kadar hambat minimum (KHM) S. aureus dan E. coli secara berturut-turut adalah 3,1 µl/ml dan 6,2 µl/ml. Sedangkan nilai kadar bunuh minimum (KBM) secara berturut-turut adalah 6,2 µl/ml dan 12,5 µl/ml. Hasil uji bioautografi menunjukkan ada dua zona jernih, yang mengidentifikasikan adanya senyawa yang bersifat antimikrobial. Isolasi fraksi aktif minyak atsiri yang dipandu oleh hasil bioautografi menghasilkan fraksi aktif 2 dan 3. Kedua fraksi tersebut dianalisis dengan KG-SM dan diketahui bahwa senyawa utama dalam fraksi 2 adalah globulol dan dalam fraksi 3 adalah spatulenol, dengan kadar relatif dalam masing-masing fraksi adalah 61,60% dan 46,12%. Kedua senyawa tersebut termasuk golongan senyawa seskuiterpen alkohol. 

Kata kunci : Eucalyptus alba Reinw, minyak atsiri, antibakterial, globulol, spatulenol.





Dini Fitriastuti (o4/FA/07202)

22 08 2008

PENGARUH SISTEM TUMPANGSARI ANTARA DAUN DEWA (Gynura pseudochina (L.) DC) DAN TEMPUYUNG (Soncus arvensis L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KADAR FLAVONOID TOTALNYA

INTISARI

Indonesia memiliki 940 tanaman yang diketahui berfungsi sebagai biofarmaka. Pengembangan agromedisin dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan impor obat-obatan salah satunya dengan budidaya tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah sistem penanaman tumpangsari menimbulkan interaksi antar tanaman obat yang berpengaruh pada pertumbuhan dan kadar kandungan metabolit sekundernya. Dalam penelitian ini digunakan tanaman Daun dewa (Gynura pseudochina (L.) DC) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.).

Penelitian ini dimulai dengan determinasi tanaman, budidaya tanaman secara organik, pasca panen dan analisis. Budidaya dilakukan selama 60 hari. Parameter pertumbuhan diukur secara non destruktif dengan melakukan pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Dalam penelitian ini terdapat tiga kelompok tanaman yaitu kelompok tempuyung monokultur (kontrol), kelompok daun dewa monokultur (kontrol), dan kelompok tumpangsari antara daun dewa dan tempuyung (perlakuan). Selanjutnya parameter pertumbuhan dianalisis dengan perbandingan grafik dan secara statistik GLM-repeated measures menggunakan SPSS 13. Setelah panen bagian tanaman dipisahkan bagian daun dan akar/umbi untuk diekstraksi menggunakan etanol 70%. Ekstrak ini dianalisis untuk deteksi flavonoid menggunakan metode KLT dilanjutkan analisis kuantitatif mengukur kadar flavonoid total dari masing-masing ekstrak menggunakan metode Zou dkk., (2004) dilanjutkan analisis statistik untuk masing-masing kadar menggunakan uji independence samples T test.

Hasil penelitian ini menunjukkan sistem tumpangsari hanya berpengaruh secara signifikan pada penurunan jumlah daun tanaman daun dewa (nilai signifikansi 0,014 < a). Hasil pengukuran kadar flavonoid total menunjukkan sistem tumpangsari secara signifikan meningkatkan kadar flavonoid pada daun dewa dibagian daun dan menurunkan kadar flavonoid total pada akar tempuyung (nilai signifikansi 0,000 < 1/2 a).

Kata kunci : tempuyung, daun dewa, tumpangsari, flavonoid total








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.