www.kompas.com, 22 Agustus 2008
“Saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun tubuh yang dikenal dengan nama immunomodulator”
JERIH payah DR.Drs Suprapto Ma’at Apt MS meneliti obat herbal selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil gemilang. Risetnya tentang khasiat ekstrak meniran (phyllanthus niruri) telah mendapat pengakuan secara luas sehingga ia mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008.
Habibie Center memberikan penghargaan kepada pria kelahiran Banyuwangi, 18 Desember 1948, itu atas jasa dan prestasinya melalui riset aplikatif tanaman meniran untuk Stimuno. Habibie Award diberikan dalam rangka mendorong dan menggerakkan percepatan sumber daya manusia dan memberikan apresiasi bagi mereka yang aktif dan berjasa dalam menemukan, mengembangkan kegiatan iptek yang inovatif dan signifikan.
Ayah empat putra itu menjelaskan, khasiat ekstrak meniran sebelumnya telah teruji secara praklinis pada mencit (tikus putih) dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Lalu dalam kurun beberapa tahun, dengan bantuan produsen farmasi PT Dexa Medica, Suprapto melakukan uji klinis di berbagai rumah sakit.
Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Formula ekstrak meniran terbukti berkhasiat dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit, mulai dari tuberkulosis, hepatitis, dan vulvovaginitis. Tak heran bila hasil penelitian pria yang kini bekerja di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini telah mendapat paten dari Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia) pada tahun ini.
Ciptakan vaksin
Sebelum meneliti herbal, DR Suprapto sebelumnya banyak berkecimpung di dunia bioteknologi dan menjadi otak lahirnya berbagai vaksin penting, seperti vaksin penyakit mulut dan kuku, vaksin anthrax, dan vaksin brucella. Namun, kemudian ia beralih ke bidang yang juga tak jauh dari vaksin, yakni ilmu kekebalan tubuh (immunologi). Ia lalu gencar meneliti khasiat berbagai tanaman, seperti meniran dan tumbuhan obat lain seperti waluh jipang (Sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (Psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD.
“Saya menilai penelitian tentang obat herbal lebih menjanjikan. Kalau kita mau meneliti obat atau menemukan suatu obat lalu kita menang dengan obat kimia, itu rasanya omong kosong. Karena apa? Teknologi kimia sintensis Indonesia sudah tertinggal 100-200 tahun. Jadi tidak mungkin penelitian menggunakan bahan kimia dilakukan di Indonesia. Satu-satunya kalau kita mau menemukan obat asli Indonesia, hanya dengan obat herbal,” ujar DR Suprapto di Jakarta Kamis (21/8) kemarin.
Dalam pandangannya, penelitian obat herbal sangatlah prospektif karena Indonesia adalah negara terkaya di dunia dalam keanekaragaman bilogis (biodiversity).”Kita kaya akan bahan alam, semuanya dapat dimanfaatkan untuk obat tradisional,” terangnya.
Penanggung jawab apotik Petrokimia Gresik sejak 1982 itu juga menegaskan penelitian obat tradisional sebaiknya difokuskan pada jenis terapi yang belum banyak dilakukan bahan kimia. Ini sangat penting agar biaya penelitian yang dikeluarkan tidak sia-sia, selain membuat obat herbal lebih kompetitif dan lebih menguntungkan dari sisi ekonomis.
“Oleh karena itu saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun yang dikenal immnunomodulator,” ujarnya.
DR Suprapto menambahkan, ektrak meniran yang dikemas dalam Stimuno adalah immnunomodulator yang bersifat imunostimulator atau dapat merangsang sistem imun agar fungsi dan aktivitasnya meningkat dan siap bekerja optimal menghadapi invasi mikroba dan virus. Stimuno telah teruji dengan baik yakni dengan 15 uji klinis. Obat herbal ini juga telah memperoleh serifikat Fitofarmaka dari BPOM

Memang benar bahan nabati merupakan bahan yang unik untuk meningkatkan kekebakan (immunostimulant atau immunomodulator). Kita semua tahu bahwa musuh utama kita pada saat ini adalah virus. Untuk menanggulangi ulah virus salah satunya adalah dengan herbal. Banyak tumbuhan yang memiliki sifat itu. Anda dapat mencari dari internet. Silahkan meneliti dan mengembangkan.
denger gosip klo UGM buka fakultas khusus farmasi herbal ato apa…gtu. bener ga? klo bner ato salah tolong kasih kabar ke email saya ya!!!
thaks banget
ilmiart_dr@yahoo.co.id
itu benaaar sekali.. bukan gosip lagi.. kamilah faktanya.. huehehe…
jadi begini,, saat ini di farmasi ugm udah ada tiga minat studi..
1. farmasi klinik dan komunitas
2. farmasi sains dan industri
3. farmasi bahan alam
dulu, farmasi bahan alam baru dibuka tahun 2004, saya termasuk angkatan pertama.. dulu namanya program studi obat alami..
kita mempelajari tentang pengobatan dengan bahan alam..
pokoknya menarik banget..
ada aromaterapi, kosmetika alami, dapet kewirausahaan juga, trus ada budidaya tanaman obat, teknologi pasca panen, fitoterapi, dan lain-lain..
yang berhubungan dengan tanaman, ataupun hewan, baik yang di darat maupun di laut..
berminat??
ilmu kita kayak nggak berguna ya di profesi
nguap semua
wush… nguap ampe ke ubun2.. hahaha..
kalau emang beneran di UGM ada fakultas herbal, saya bisa referensikan ke semua orang yang tertarik dengan pengbatan herbal ya. termasuk saya.
Absolutely…
kalo bukan kita yang mengembangkan obat alam di Indonesia siapa lagi?
apalagi tahun 2010 sudah mulai dibuka perdagangan bebas obat herbal se ASEAN. ayo kita jangan mau ketinggalan.. hehe..