Obat kolesterol dari suku Sasak

26 08 2008

www.kompas.com, 7 Agustus 2008

DARI sekian banyak tumbuhan berbunga, beberapa di antaranya sudah sejak lama digunakan sebagai obat tradisional oleh Suku Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Jenis tumbuhan yang biasa digunakan  Suku Sasak misalnya mayang kelapa dan daun ceremai sebagai obat alami penurun kadar kolesterol dan gula darah.

Drs. M. Yamin, M.Si dari Lembaga Penelitian Universitas Mataram (Unram) di Mataram, Kamis (7/8) di hadapan peserta Expose Hasil Penelitian yang diadakan Bappeda NTB, menyatakan sedikitnya 30 ribu spesies tumbuhan berbunga terdapat di hutan Indonesia dan 1.650 spesies di antaranya berkhasiat untuk dijadikan obat. 

Di kalangan suku sasak, tumbuh-tumbuhan ini diyakini memiliki khasiat yang lebih mujarab daripada obat kimia. “Berkaitan dengan itu, sejumlah pengobatan tradisonal Suku Sasak, Lombok, terlihat efektif daripada yang lazim digunakan dokter,” ungkap M Yamin.

Dikatakan Yamin, pengetahuan masyarakat Sasak tentang obat-obatan itu diperoleh dari naskah daun Lontar Usada Lombok yang sudah berusia ratusan tahun, dan warisan turun temurun. Menurutnya, ada sekitar 263 jenis penyakit dan 163 jenis obat-obatan tradisional suku Sasak. Meskipun khasiat obat  tradisional itu sudah diyakini dan dibuktikan sejak lama, namun hingga kini belum ada riset atau penelitian ilmiah secara mendalam.

Penanganan kesehatan yang bersifat tradisional dengan menggunakan obat tradisional dari bahan tumbuhan atau hewan hingga kini masih populer di masyarakat. Selain karena biayanya yang relatif murah, pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan mudah diperoleh berkat potensi alam yang kaya selain juga merupakan warisan turun temurun.

Pada bulan Maret 2007 pernah ada upaya untuk menguji khasiat dan analisis kandungan bahan aktif obat tradisional Sasak untuk penurunan kadar kolestrol dan gula darah. “Tujuannya untuk mengetahui kebenaran khasiat mayang kelapa dan daun cerami terhadap kadar kolesterol dan gula darah, kandungan bahan aktif masing-masing obat serta menyediakan informasi penanganan masalah kolestrol dan gula darah,” katanya.

Sebelumnya Ketua Bappeda NTB, Drs. H. Lalu Fathurrahman menjelaskan,  pihaknya telah mengidentifikasi sebanyak 123 judul penelitian yang direkomendasikan untuk pengembangan kajian pembangunan di daerah ini. Penelitian tersebut meliputi kajian pada sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian serta sektor unggulan lainnya.





Suprapto : Sang penemu herbal untuk kekebalan

26 08 2008

www.kompas.com, 22 Agustus 2008

“Saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun tubuh yang dikenal dengan nama immunomodulator”

JERIH payah DR.Drs Suprapto Ma’at Apt MS meneliti obat herbal selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil gemilang. Risetnya tentang khasiat ekstrak meniran  (phyllanthus niruri) telah mendapat pengakuan secara luas sehingga ia mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008.
    
Habibie Center memberikan penghargaan kepada pria kelahiran Banyuwangi, 18 Desember 1948, itu atas jasa dan prestasinya melalui riset aplikatif tanaman meniran untuk Stimuno. Habibie Award diberikan dalam rangka mendorong dan menggerakkan percepatan sumber daya manusia dan memberikan apresiasi bagi mereka yang aktif dan berjasa dalam menemukan, mengembangkan kegiatan iptek yang inovatif dan signifikan.

Ayah empat putra itu menjelaskan, khasiat ekstrak meniran sebelumnya telah teruji secara praklinis pada mencit (tikus putih) dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Lalu dalam kurun beberapa tahun, dengan  bantuan produsen farmasi PT Dexa Medica,  Suprapto melakukan uji klinis di berbagai rumah sakit.

Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Formula ekstrak meniran terbukti berkhasiat dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit, mulai dari tuberkulosis, hepatitis, dan vulvovaginitis. Tak heran bila hasil penelitian pria yang kini bekerja di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini telah mendapat paten dari Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia) pada tahun  ini.

Ciptakan vaksin

Sebelum meneliti herbal, DR Suprapto sebelumnya banyak berkecimpung di dunia bioteknologi dan menjadi otak lahirnya berbagai vaksin penting, seperti vaksin penyakit mulut dan kuku, vaksin anthrax, dan vaksin brucella. Namun, kemudian ia beralih ke bidang yang juga tak jauh dari vaksin, yakni ilmu kekebalan tubuh (immunologi). Ia lalu gencar meneliti  khasiat berbagai tanaman, seperti meniran dan tumbuhan obat lain seperti waluh jipang (Sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (Psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD. 

“Saya menilai penelitian tentang obat herbal lebih menjanjikan. Kalau kita mau meneliti obat atau menemukan suatu obat lalu kita menang dengan obat kimia, itu rasanya omong kosong. Karena apa? Teknologi kimia sintensis Indonesia sudah tertinggal 100-200 tahun. Jadi tidak mungkin penelitian menggunakan bahan kimia dilakukan di Indonesia.  Satu-satunya kalau kita mau menemukan obat asli Indonesia, hanya dengan obat herbal,” ujar DR Suprapto di Jakarta Kamis (21/8) kemarin.

Dalam pandangannya, penelitian obat herbal sangatlah prospektif karena Indonesia adalah negara terkaya di dunia dalam keanekaragaman bilogis (biodiversity).”Kita kaya akan bahan alam, semuanya dapat dimanfaatkan untuk obat tradisional,” terangnya.

Penanggung jawab apotik Petrokimia Gresik sejak 1982 itu juga menegaskan penelitian obat tradisional sebaiknya difokuskan pada jenis terapi yang belum banyak dilakukan bahan kimia. Ini sangat penting agar biaya penelitian yang dikeluarkan tidak sia-sia, selain membuat obat herbal lebih kompetitif dan lebih menguntungkan dari sisi ekonomis.

“Oleh karena itu saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun yang dikenal immnunomodulator,” ujarnya. 

DR Suprapto menambahkan, ektrak meniran yang dikemas dalam Stimuno adalah immnunomodulator yang bersifat imunostimulator atau dapat merangsang sistem imun agar fungsi dan aktivitasnya meningkat dan siap bekerja optimal menghadapi invasi mikroba dan virus.  Stimuno telah teruji dengan baik yakni dengan 15  uji klinis.  Obat herbal ini juga telah  memperoleh serifikat Fitofarmaka dari BPOM