Amelia Indriana (o4/FA/o7199)

13 08 2008

PENGARUH SUKROSA TERHADAP KULTUR KALUS DAUN BINAHONG (Anredera scandens (L.) Moq)

Abstrak

Penggunaan obat dari bahan alam telah banyak digunakan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Salah satu tumbuhan obat yang saat ini banyak digunakan adalah binahong atau Anredera scandens (L.) Moq. Bahan yang masih dikumpulkan dari tumbuhan liar tidak dapat menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan dan persyaratan kadar metabolit sekunder yang berkhasiat tidak seragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh variasi kadar sukrosa terhadap produksi kalus daun binahong dan metabolit sekunder senyawa golongan flavonoid dan saponin.

Kalus daun binahong diperoleh dari perbanyakan secara in-vitro dalam media MS padat 2,4 D 1 ppm dengan variasi kadar sukrosa 22,5; 30; 37,5; 45; dan 60 g/L. Kalus yang didapatkan dipanen setlah berumur sekitar 20, 40, dan 60 hari. Pengaruh sukrosa terhadap pertumbuhan kalus dianalisis dengan menggunakan parameter rerata bobot segar kalus dan bobot kerin kalus. Pengaruh sukrosa terhadap metabolit sekunder kalus dianalisis dengan kromatografi lapis tipis. Ekstrak etil asetat kalus dibandingkan dengan ekstrak etil asetat daun binahong.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh terbesar pada pertumbuhan kalus diberikan oleh media dengan kadar sukrosa 60 g/L. Profil kromatogram menunjukkan senyawa flavonoid terdapat pada media S30 dan S37,5 yang dipanen pada hari ke 20. Senyawa golongan saponin tampak pada semua media perlakuan. 

Kata kunci : binahong, kalus, sukrosa, metabolit sekunder

 

 





Antonius Dewanto P (o4/FA/o721o)

13 08 2008

ANALISIS MAKROSKOPIK, MIKROSKOPIK DAN PENENTUAN SENYAWA IDENTITAS (MARKER) DARI SIMPLISIA HERBA PURWOCENG (Pimpinela pruatjan Molkenb.) 

Abstrak

Herba purwoceng telah digunakan oleh masyarakat sebagai aprodisiak. Karena harga yang mahal serta kelangkaannya, maka rawan dipalsukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan simplisia secara makroskopik, menentukan fragmen pengenal serbuk dan menentukan senyawa identitas purwoceng.

Penelitian bersifat eksploratif. Simplisia herba dideskripsikan secara makroskopik berdasarkan ciri morfologi dan organoleptis. Secara mikroskopik serbuk ditentukan fragmen pengenalnya menggunakan mikroskop. Senyawa identitas didapatkan dengan Kromatografi Lapis Tipis kualitatif dari perbandingan penyarian serbuk herba bersama-sama pegagan, seledri dan wortel menggunakan pelarut petroleum eter, kloroform, metanol dan etanol.

Hasil penelitian menunjukkan simplisia daun purwoceng mengkerut, mudah hancur, bidang patahan daun melintang, sifat permukaan helaian mengkerut memperlihatkan tulang-tulang daun, nampak atau tidak tangkai daun, cokelat tua, aromatik, tidak berasa. Batang sulit ditemukan, susunan bunga majemuk tak berbatas seperti payung majemuk, daun-daun pembalut tidak ditemukan. Fragmen pengenal serbuk adalah rambut penutup, tetes minyak, pembuluh kayu dengan penebalan spiral, spiral padat, cincin dan tangga, stomata tipe parasitik, kristal ca-oksalat bentuk pasir, serabut sklerenkim, jaringan epidermis batang dan daun, serta jaringan parenkim. Senyawa identitas herba purwoceng, dengan sistem Kromatografi Lapis Tipis fase diam Silika Gel 60 F254 fase gerak heksan-etil asetat (9:1), ditemukan pada ekstrak petroleum eter dan ekstrak etanol 96% dengan hRf 15 dan 21 masing-masing berfluoresensi biru dan hijau bila diamati di bawah UV366.

Kata kunci : herba purwoceng, pemalsuan, makroskopik, mikroskopik, senyawa identitas

CP : matrix_1612004@yahoo.com