Puguh Indrasetiawan (o4/FA/o7203)

30 08 2008

Brine Shrimp Lethality Test (BST) EKSTRAK TANAMAN TUMPANGSARI ANTARA Sonchus arvensis L. DENGANGynura pseudochina (L.) DC SERTA PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPISNYA 

 

INTISARI 

     Industri obat tradisional semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari konsumen. Bahan baku dalam obat tradisional yang sering dipakai dalam ramuan adalah tempuyung atauSonchus arvensis L. dan daun dewa Gynura pseudochina (L.) DC. Untuk mengantisipasi permintaan yang besar, maka diperlukan usaha budidaya. Dalam penelitian ini dilakukan budidaya secara tumpangsari antara tempuyung dan daun dewa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bioaktivitas ekstrak etanolik tanaman tempuyung dan daun dewa yang dibudidayakan secara monokultur dan tumpangsari dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)menetapkan harga LC50 dan mengetahui profil kromatografi lapis tipis (KLT) dari ekstrak kedua jenis tanaman tersebut.

     Sampel diambil dari hasil monokultur dan tumpangsari, dipanen pada saat menjelang perbungaan. Bagian tanaman meliputi akar (ATA dan ATC), umbi (ADA dan ADC) dan daun (DTA, DTC, DDA dan DDC) dikeringkan dengan oven pada suhu 50° C selama tujuh hari. Ekstrak untuk uji BST dan KLT diperoleh dengan metode maserasi selama 24 jam, kemudian sari dikeringkan dalam suhu kamar. Larutan induk untuk BST dibuat dengan cara dilarutkan 50 mg ekstrak dalam 5 ml etanol 70%, lalu dibuat seri konsentrasi 10 µg/ml, 100 µg/ml dan 1000 µg/ml. setiap konsentrasi dimasukkan ke dalam flakon dan dikeringkan pada suhu kamar. Setelah ekstrak dalam flakon kering, ditambahkan 3 ml air laut dan di-vortex selama satu menit. Sepuluh ekor larva Artemia salinaLeach yang berumur 48 jam dimasukkan ke dalam flakon, ditambah air laut sampai volume 5 ml dan ditetesi suspensi ragi sebanyak 2 tetes. Perhitungan persentase kematian larva dilakukan 24 jam setelah larva dimasukkan ke dalam flakon. Analisis kandungan senyawa metabolit sekunder dilakukan secara kualitatif dengan metode KLT.

      Hasil penelitian menunjukkan nilai LC50 yang diperoleh adalah 461,30 µg/ml (ATA), 170,81 µg/ml (ATC), 5847,54 µg/ml (ADA), 761,01 µg/ml (ADC), 1966,04 µg/ml (DTA), 3299,74 µg/ml  (DTC), 267,56 µg/ml (DDA) dan 140,48 µg/ml (DDC). Empat pasang perlakuan (ATA-ATC, ADA-ADC, DTA-DTC, dan DDA-DDC) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara metode tumpangsari dengan monokultur. Pada profil KLT, profil senyawa flavonoid, terpenoid dan alkaloid menunjukkan persamaan pada ekstrak hasil tumpangsari dan monokultur.

  •  
      Kata kunci :   Brine Shrimp Lethality Test (BST), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Sonchus arvensis L.,Gynura pseudochina (L.) DC




Rasidah (o4/FA/o7237)

29 08 2008

 

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIBAKTERIAL DARI MINYAK ATSIRI BUNGA CEPLIK SARI (Eucalyptus albaReinw.)


INTISARI

 

      Penyakit infeksi merupakan penyakit teratas penyebab kematian di negara berkembang. Bakteri penyebab timbulnya infeksi cenderung bersifat resisten terhadap antibiotik, sehingga pencarian agen antibiotik yang lebih poten dan efek sampingnya rendah masih diperlukan. Minyak atsiri tanaman suku Myrtaceae banyak yang telah diketahui memiliki komposisi kimia yang dapat memberikan aktivitas antimikroba. Ceplik sari (Eucalyptus alba Reinw.) merupakan tanaman suku Myrtaceae yang  juga mengandung minyak atsiri. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri minyak atsiri bunga ceplik sari terhadapStaphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 35218 beserta isolasi dan identifikasi senyawa apa yang berpotensi sebagai antibakteri.

      Metode dilusi cair digunakan untuk uji aktivitas antibakteri, sedangkan untuk mengetahui senyawa aktif yang bersifat sebagai antibakteri digunakan metode bioautografi. Senyawa aktif yang terdeteksi dengan metode bioautografi kemudian diisolasi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP). Identifikasi dan karakterisasi senyawa aktif dari minyak atsiri dilakukan dengan kromatografi gas-spektrometri massa (KG-SM).

      Hasil uji dilusi cair diperoleh nilai kadar hambat minimum (KHM) S. aureus dan E. coli secara berturut-turut adalah 3,1 µl/ml dan 6,2 µl/ml. Sedangkan nilai kadar bunuh minimum (KBM) secara berturut-turut adalah 6,2 µl/ml dan 12,5 µl/ml. Hasil uji bioautografi menunjukkan ada dua zona jernih, yang mengidentifikasikan adanya senyawa yang bersifat antimikrobial. Isolasi fraksi aktif minyak atsiri yang dipandu oleh hasil bioautografi menghasilkan fraksi aktif 2 dan 3. Kedua fraksi tersebut dianalisis dengan KG-SM dan diketahui bahwa senyawa utama dalam fraksi 2 adalah globulol dan dalam fraksi 3 adalah spatulenol, dengan kadar relatif dalam masing-masing fraksi adalah 61,60% dan 46,12%. Kedua senyawa tersebut termasuk golongan senyawa seskuiterpen alkohol. 

Kata kunci : Eucalyptus alba Reinw, minyak atsiri, antibakterial, globulol, spatulenol.





Obat kolesterol dari suku Sasak

26 08 2008

www.kompas.com, 7 Agustus 2008

DARI sekian banyak tumbuhan berbunga, beberapa di antaranya sudah sejak lama digunakan sebagai obat tradisional oleh Suku Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Jenis tumbuhan yang biasa digunakan  Suku Sasak misalnya mayang kelapa dan daun ceremai sebagai obat alami penurun kadar kolesterol dan gula darah.

Drs. M. Yamin, M.Si dari Lembaga Penelitian Universitas Mataram (Unram) di Mataram, Kamis (7/8) di hadapan peserta Expose Hasil Penelitian yang diadakan Bappeda NTB, menyatakan sedikitnya 30 ribu spesies tumbuhan berbunga terdapat di hutan Indonesia dan 1.650 spesies di antaranya berkhasiat untuk dijadikan obat. 

Di kalangan suku sasak, tumbuh-tumbuhan ini diyakini memiliki khasiat yang lebih mujarab daripada obat kimia. “Berkaitan dengan itu, sejumlah pengobatan tradisonal Suku Sasak, Lombok, terlihat efektif daripada yang lazim digunakan dokter,” ungkap M Yamin.

Dikatakan Yamin, pengetahuan masyarakat Sasak tentang obat-obatan itu diperoleh dari naskah daun Lontar Usada Lombok yang sudah berusia ratusan tahun, dan warisan turun temurun. Menurutnya, ada sekitar 263 jenis penyakit dan 163 jenis obat-obatan tradisional suku Sasak. Meskipun khasiat obat  tradisional itu sudah diyakini dan dibuktikan sejak lama, namun hingga kini belum ada riset atau penelitian ilmiah secara mendalam.

Penanganan kesehatan yang bersifat tradisional dengan menggunakan obat tradisional dari bahan tumbuhan atau hewan hingga kini masih populer di masyarakat. Selain karena biayanya yang relatif murah, pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan mudah diperoleh berkat potensi alam yang kaya selain juga merupakan warisan turun temurun.

Pada bulan Maret 2007 pernah ada upaya untuk menguji khasiat dan analisis kandungan bahan aktif obat tradisional Sasak untuk penurunan kadar kolestrol dan gula darah. “Tujuannya untuk mengetahui kebenaran khasiat mayang kelapa dan daun cerami terhadap kadar kolesterol dan gula darah, kandungan bahan aktif masing-masing obat serta menyediakan informasi penanganan masalah kolestrol dan gula darah,” katanya.

Sebelumnya Ketua Bappeda NTB, Drs. H. Lalu Fathurrahman menjelaskan,  pihaknya telah mengidentifikasi sebanyak 123 judul penelitian yang direkomendasikan untuk pengembangan kajian pembangunan di daerah ini. Penelitian tersebut meliputi kajian pada sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian serta sektor unggulan lainnya.





Suprapto : Sang penemu herbal untuk kekebalan

26 08 2008

www.kompas.com, 22 Agustus 2008

“Saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun tubuh yang dikenal dengan nama immunomodulator”

JERIH payah DR.Drs Suprapto Ma’at Apt MS meneliti obat herbal selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil gemilang. Risetnya tentang khasiat ekstrak meniran  (phyllanthus niruri) telah mendapat pengakuan secara luas sehingga ia mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008.
    
Habibie Center memberikan penghargaan kepada pria kelahiran Banyuwangi, 18 Desember 1948, itu atas jasa dan prestasinya melalui riset aplikatif tanaman meniran untuk Stimuno. Habibie Award diberikan dalam rangka mendorong dan menggerakkan percepatan sumber daya manusia dan memberikan apresiasi bagi mereka yang aktif dan berjasa dalam menemukan, mengembangkan kegiatan iptek yang inovatif dan signifikan.

Ayah empat putra itu menjelaskan, khasiat ekstrak meniran sebelumnya telah teruji secara praklinis pada mencit (tikus putih) dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Lalu dalam kurun beberapa tahun, dengan  bantuan produsen farmasi PT Dexa Medica,  Suprapto melakukan uji klinis di berbagai rumah sakit.

Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Formula ekstrak meniran terbukti berkhasiat dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit, mulai dari tuberkulosis, hepatitis, dan vulvovaginitis. Tak heran bila hasil penelitian pria yang kini bekerja di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini telah mendapat paten dari Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia) pada tahun  ini.

Ciptakan vaksin

Sebelum meneliti herbal, DR Suprapto sebelumnya banyak berkecimpung di dunia bioteknologi dan menjadi otak lahirnya berbagai vaksin penting, seperti vaksin penyakit mulut dan kuku, vaksin anthrax, dan vaksin brucella. Namun, kemudian ia beralih ke bidang yang juga tak jauh dari vaksin, yakni ilmu kekebalan tubuh (immunologi). Ia lalu gencar meneliti  khasiat berbagai tanaman, seperti meniran dan tumbuhan obat lain seperti waluh jipang (Sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (Psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD. 

“Saya menilai penelitian tentang obat herbal lebih menjanjikan. Kalau kita mau meneliti obat atau menemukan suatu obat lalu kita menang dengan obat kimia, itu rasanya omong kosong. Karena apa? Teknologi kimia sintensis Indonesia sudah tertinggal 100-200 tahun. Jadi tidak mungkin penelitian menggunakan bahan kimia dilakukan di Indonesia.  Satu-satunya kalau kita mau menemukan obat asli Indonesia, hanya dengan obat herbal,” ujar DR Suprapto di Jakarta Kamis (21/8) kemarin.

Dalam pandangannya, penelitian obat herbal sangatlah prospektif karena Indonesia adalah negara terkaya di dunia dalam keanekaragaman bilogis (biodiversity).”Kita kaya akan bahan alam, semuanya dapat dimanfaatkan untuk obat tradisional,” terangnya.

Penanggung jawab apotik Petrokimia Gresik sejak 1982 itu juga menegaskan penelitian obat tradisional sebaiknya difokuskan pada jenis terapi yang belum banyak dilakukan bahan kimia. Ini sangat penting agar biaya penelitian yang dikeluarkan tidak sia-sia, selain membuat obat herbal lebih kompetitif dan lebih menguntungkan dari sisi ekonomis.

“Oleh karena itu saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun yang dikenal immnunomodulator,” ujarnya. 

DR Suprapto menambahkan, ektrak meniran yang dikemas dalam Stimuno adalah immnunomodulator yang bersifat imunostimulator atau dapat merangsang sistem imun agar fungsi dan aktivitasnya meningkat dan siap bekerja optimal menghadapi invasi mikroba dan virus.  Stimuno telah teruji dengan baik yakni dengan 15  uji klinis.  Obat herbal ini juga telah  memperoleh serifikat Fitofarmaka dari BPOM





tanya dunk..

24 08 2008

ini adalah kategori terbaru dalam blog FBA-UGM…

salah satu pembaca ada yang berusul untuk dibuat suatu tempat tanya jawab seputar obat-obat bahan alam..
seru juga sih.. biar tambah rame.. hehe..
ini merupakan tantangan kami sebagai seorang farmasis tentunya..

kalo ada pembaca yang ingin bertanya tentang obat2an bahan alam silakan ketik reg spasi tanya ke 92292929.. eh bukan ding..
kirim aja email ke fbaugm@gmail.com.. jangan lupa cantumkan nama,usia,asal,dan pekerjaan.. hehe.. status juga boleh..siapa tau ada yang berminat.. (lho kok jadi biro jodoh..)

kami akan menjawab secepat mungkin.. dan tentunya sekuat tenaga kami untuk menjawab, pastinya..

oke..ditunggu.. penanya pertama mendapatkan hadiaaah..mmm.. gratis mengakses blog ini dari manapun dan kapanpun selama ada jaringan internet disana hehe…





Dini Fitriastuti (o4/FA/07202)

22 08 2008

PENGARUH SISTEM TUMPANGSARI ANTARA DAUN DEWA (Gynura pseudochina (L.) DC) DAN TEMPUYUNG (Soncus arvensis L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KADAR FLAVONOID TOTALNYA

INTISARI

Indonesia memiliki 940 tanaman yang diketahui berfungsi sebagai biofarmaka. Pengembangan agromedisin dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan impor obat-obatan salah satunya dengan budidaya tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah sistem penanaman tumpangsari menimbulkan interaksi antar tanaman obat yang berpengaruh pada pertumbuhan dan kadar kandungan metabolit sekundernya. Dalam penelitian ini digunakan tanaman Daun dewa (Gynura pseudochina (L.) DC) dan Tempuyung (Sonchus arvensis L.).

Penelitian ini dimulai dengan determinasi tanaman, budidaya tanaman secara organik, pasca panen dan analisis. Budidaya dilakukan selama 60 hari. Parameter pertumbuhan diukur secara non destruktif dengan melakukan pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Dalam penelitian ini terdapat tiga kelompok tanaman yaitu kelompok tempuyung monokultur (kontrol), kelompok daun dewa monokultur (kontrol), dan kelompok tumpangsari antara daun dewa dan tempuyung (perlakuan). Selanjutnya parameter pertumbuhan dianalisis dengan perbandingan grafik dan secara statistik GLM-repeated measures menggunakan SPSS 13. Setelah panen bagian tanaman dipisahkan bagian daun dan akar/umbi untuk diekstraksi menggunakan etanol 70%. Ekstrak ini dianalisis untuk deteksi flavonoid menggunakan metode KLT dilanjutkan analisis kuantitatif mengukur kadar flavonoid total dari masing-masing ekstrak menggunakan metode Zou dkk., (2004) dilanjutkan analisis statistik untuk masing-masing kadar menggunakan uji independence samples T test.

Hasil penelitian ini menunjukkan sistem tumpangsari hanya berpengaruh secara signifikan pada penurunan jumlah daun tanaman daun dewa (nilai signifikansi 0,014 < a). Hasil pengukuran kadar flavonoid total menunjukkan sistem tumpangsari secara signifikan meningkatkan kadar flavonoid pada daun dewa dibagian daun dan menurunkan kadar flavonoid total pada akar tempuyung (nilai signifikansi 0,000 < 1/2 a).

Kata kunci : tempuyung, daun dewa, tumpangsari, flavonoid total





Tanaman obat, sulit cari di kalimantan…

22 08 2008

SAMARINDA, Kalangan warga Kalimantan kian sulit mendapat tumbuhan obat. Hutan telah rusak akibat dikelola tak ramah oleh perusahaan atau dijadikan perkebunan.

Hutan yang kaya tumbuhan obat jauh dari permukiman sehingga warga enggan ke sana. Akibatnya, kemampuan meracik dan pengetahuan tradisional tentang pelbagai tumbuhan obat berangsur-angsur sirna. Warga mulai bergantung pada obat-obatan buatan pabrik yang harus dibeli .

Ironis, rakyat yang dulu amat paham meracik tumbuhan obat kini malah membeli obat-obatan, kata Irawan Wijaya Kusuma dalam Diskusi Rimbawan Universitas Mu lawarman (Unmul) di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (24/6).

Dalam makalahnya disebutkan ada 28.000 jenis tumbuhan di Indonesia. Sebanyak 7.000 jenis di antaranya ialah tumbuhan obat. Artinya, 9 dari 10 tumbuhan obat Asia ada di Indonesia. Namun, baru 1.000 jenis yang dikenal dan dipakai sebagai ramuan obat-obatan.

Dalam penelusuran dosen Jurusan Teknologi Hasil Hutan Unmul itu, orang Ransa (dayak) di Kalimantan Barat mengenal 250 jenis tumbuh an obat. Di Kalimantan Timur, orang Punan mengenal 95 jenis sedangkan orang Kenyah mengenal 81 jenis tumbuhan obat yang bisa diracik menjadi pelbagai ramuan.

Selain itu, menurut Hery Romadan, pemasar obat-obat tradisional, orang Tonyooi dan Benuaq di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, telah lama memanfaatkan pasak bumi (Eurycoma longifolia ) sebagai obat penguat stamina. Orang Iban di Kalimantan Barat memakai kacip atau rumput fatimah (Labisia pumila ) untuk memperlancar persalinan dan haid.  

“Sayang malah negara lain yang lebih dulu mematenkan teknologi pemanfaatan kedua jenis tumbuhan itu,” kata Hery. Oleh Malaysia, pasak bumi diracik untuk dijadikan kapsul atau campuran kopi seperti juga rumput fatimah.

Agar pengetahuan tradisional pemanfaatan tumbuhan obat tak sirna, menurut Emilda Kuspraningrum dari Fakultas Hukum Unmul, perlu dipatenkan. Sejumlah tumbuhan obat yang tak bisa dibudidayakan perlu dilindungi aturan khusus agar tak dimanfaatkan berlebihan apalagi oleh perusahaan.

www.kompas.com/24 Juni 2008





Obat herbal harus penuhi standar ilmiah

22 08 2008

PRODUK obat herbal di Indonesia kini sudah mencapai puluhan ribu dan dikenal luas sebagai jamu oleh sebagian masyarakat. Persoalannya, obat tersebut penggunaannya berdasarkan pendekatan medik berbasis bukti-bukti ilmiah (evidence based medicine).  Oleh karena itulah, pemerintah dituntut lebih berperan dalam penelitian obat tradisional dan mengembangkan kerjasama dengan stakeholder lainnya.

Demikian diungkapkan guru besar pensiun Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia  Prof Dr Wahyuning Ramelan, Sp.And dalam seminar “Obat Herbal dalam Pembangunan Kesehatan” di Business Center, Mega Glodok Kemayoran, Jakarta, Senin (11/8). 

“Pemerintah seharusnya mendorong lomba penelitian khusus jamu atau obat herbal, mendorong pihak swasta untuk ikut berperan mendanai penelitian bidang ini,” kata Ramelan. 

Selain itu, menurut Ramelan, pemerintah juga perlu memberi peralatan untuk penelitian obat tradisional pada lembaga pendidikan tinggi atau lembaga penelitian. 

Peran lembaga pendidikan tinggi, menurut  Prof Dr Sidik dari Universitas Padjajaran, juga signifikan untuk mendorong fakultas meneliti efek farmakologik obat tradisional. 

“Obat herbal ini bisa menjadi potensi besar bangsa kita bila diketahui secara akademik ilmiah semua efek farmako-logiknya, efek sampingnya dan berbagai cara masuk yang efektif ke tubuh,” ujar Sidik.

Ia mengatakan, penelitian obat herbal itu sangat penting tapi hasil penelitian itu juga dapat dikemas menjadi produk berorientasi paten dan pasar. 

“Ini tak mudah karena dibutuhkan kerjasama lintas disiplin, antara dokter yang akan menyarankan penggunaan obat herbal, peneliti dan industri obat,” tutur Sidik.

Ia menandaskan tidak adanya kerjasama dan integrasi antara peneliti (universitas), industri dan pemerintah itulah yang masih menjadi kendala obat herbal dapat diterima secara medis.

www.kompas.com, 11-8-2008





Obat herbal punya prospek cerah

22 08 2008

Prospek obat herbal di Indonesia di masa mendatang akan cerah. Bila bahan-bahan herbal ini telah memenuhi syaratevidence based medicine, maka obat herbal akan menjadi jenis obat yang diminati masyarakat karena harganya terjangkau dan bahannya mudah didapat.

“Karena bila standarisasi bahan yang terkandung dalam syarat evidence based medicine itu dipenuhi, maka obat herbal dengan harga terjangkau dan bahan yang mudah didapat bisa terpenuhi,” ujar Shierly dari Direktorat Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam workshop Obat Herbal untuk Pembangunan Kesehatan di Mega Glodok Kemayoran, Jakarta Utara, Senin (11/8).

Menurut Shierly, hal yang paling mendasar yaitu standard operational procedur (SOP) dalam penanaman tumbuhan obat herbal. 

“Karena kandungan logam berat bisa saja terdapat dalam tanaman obat karena jenis tanah yang sudah tercemar, ini yang harus diperhatikan, bagaimana standarisasi itu diperlukan untuk menjaga kualitas obat herbal,” paparnya.

“Kalau obat herbal ini kan dari tanaman yang biasanya sudah digunakan masyarakat kita, jadi percobaan tidak perlu dimulai dari hewan, karena langsung pada manusia ya masyarakat itu sudah coba langsung ratusan tahun lalu dan tidak ada efek samping,” tambahnya Shierly.

Sementara itu farmakolog Prof Amir Syarif dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) menyatakan bahwa keragaman tumbuhan darat dan laut sudah diolah dan dipasarkan, tetapi hampir sebagian besar dokter di Indonesia belum merekomendasikan penggunaan obat tradisional karena belum memenuhi standar akademik ilmiah (evidence based medicine).

“Di negara kita jumlah tanaman obat itu beraneka macam, tetapi sebagian besar dokter kita belum merekomendasikannya karena harus ada standarisasi bahan yang terkandung dalam obat herbal, itu syarat evidence based medicine,” ujar Amir.

Standarisasi diperlukan, dikatakan Amir, harus ada hubungan antara dosis dengan efek obat herbal. “Kalau tidak distandarisasi maka dosisnya tidak bisa dipastikan, demikian pula efeknya,” tutur Amir.

www.kompas.com, 11-8-2008





Joko Tri W. (o4/FA/o7147)

20 08 2008

Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap Titer Antibodi Ayam Petelur yang Diinduksi Vaksin Flu Burung Subtipe H5N2

Intisari

           Upaya vaksinasi AI (Avian Influenza) pada unggas mengalami permasalahan yaitu rendahnya titer antibodi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak air buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap titer antibodi ayam petelur yang diinduksi vaksin subtipe H5N2.
           Penelitian ini bersifat eksperimental. Hewan uji yang digunakan adalah ayam petelur yang berumur 28 minggu. Sebanyak 20 ekor ayam petelur dibagi ke dalam 5 kelompok. Kelompok kontrol nul, kelompok kontrol negatif, kelompok dosis tinggi (1,14 g/1,7 kgBB), kelompok dosis sedang (0,57 g/1,7 kg BB), dan dosis rendah (0,27 g/1,7 kgBB). Vaksinasi dilakukan pada minggu ke-0 (7 hari setelah pengkondisian). Pengambilan sampel serum darah dilakukan pada minggu ke-0, minggu ke-3, minggu ke-6, dan minggu ke-10. Titer antibodi diukur menggunakan uji hambatan hemaglutinasi (HI test). Data yang diperoleh dari hasil pengukuran titer antibodi dianalisis secara statistik menggunakan analisis variasi Split plot dilanjutkan dengan uji Tukey.
          Hasil penelitian menunjukkan titer antibodi yang dihasilkan pada minggu ke-3 setelah vaksinasi berbeda sangat signifikan dengan titer antibodi pada minggu ke-6 dan ke-10 setelah vaksinasi. Ekstrak air buah mengkudu dosis sedang meningkatkan titer antibodi secara signifikan terhadap kontrol negatif (P<0,05). Titer antibodi yang didapat bersifat protektif.